
Sibolga (Humas) — MAN Sibolga terus memperkuat budaya literasi melalui kegiatan membaca senyap yang melibatkan guru dan murid di lingkungan madrasah. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan membaca secara konsisten sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa literasi merupakan fondasi penting dalam proses pembelajaran, pengembangan wawasan, dan pembentukan karakter peserta didik. Dalam kegiatan tersebut, guru dan murid meluangkan waktu untuk membaca secara mandiri dalam suasana yang tenang dan kondusif. Setiap peserta berkesempatan berinteraksi dengan bahan bacaan, memahami informasi, serta memperluas pengetahuan sesuai dengan bacaan yang dipilih. Melalui kegiatan sederhana ini, MAN Sibolga berupaya menghadirkan pengalaman membaca sebagai bagian dari kehidupan madrasah, bukan semata-mata aktivitas yang dilakukan ketika pembelajaran Bahasa Indonesia atau saat berada di perpustakaan.
Membaca senyap memberikan ruang bagi murid untuk berkonsentrasi, memahami isi bacaan, dan membangun hubungan personal dengan pengetahuan. Kebiasaan ini juga dapat melatih kesabaran, ketekunan, serta kemampuan mengolah informasi sebelum menarik kesimpulan. Keterampilan tersebut penting bagi murid dalam menghadapi pembelajaran yang semakin menuntut kemampuan berpikir kritis, memahami berbagai sumber informasi, dan menyampaikan gagasan secara tepat. Bagi MAN Sibolga, penguatan literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca teks, tetapi juga dengan kemampuan memahami makna, menghubungkan informasi dengan pengetahuan sebelumnya, serta menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Murid yang terbiasa membaca diharapkan memiliki bekal lebih kuat untuk mengikuti pembelajaran lintas mata pelajaran, menyelesaikan tugas, memperkaya kosakata, dan mengembangkan pemikiran yang lebih terbuka.
Kegiatan membaca senyap juga menempatkan guru sebagai bagian penting dalam membangun budaya literasi. Ketika guru dan murid sama-sama terlibat dalam kegiatan membaca, madrasah menghadirkan lingkungan belajar yang mendorong keteladanan. Guru tidak hanya mengajak murid untuk membaca, tetapi juga ikut menunjukkan bahwa kebiasaan membaca merupakan kebutuhan sepanjang hayat bagi setiap orang, termasuk pendidik. Setelah kegiatan membaca senyap selesai, seluruh guru dan murid MAN Sibolga turut mengisi Survei Tingkat Kegemaran Membaca Tahun 2026 dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Partisipasi ini menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan literasi karena menghubungkan pembiasaan membaca di madrasah dengan upaya pengumpulan data mengenai kegemaran membaca masyarakat.
Pengisian survei tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi warga madrasah untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang berkaitan dengan pemetaan kebiasaan membaca. Survei mengenai kegemaran membaca dapat membantu memberikan gambaran tentang perilaku membaca responden berdasarkan instrumen yang digunakan. Karena itu, pengisian perlu dilakukan secara mandiri dan sesuai dengan pengalaman masing-masing agar jawaban yang diberikan mencerminkan kondisi sebenarnya. Keterlibatan guru dan murid dalam survei juga memperluas pemahaman bahwa penguatan literasi tidak berhenti pada kegiatan membaca bersama. Budaya literasi perlu didukung oleh kesadaran terhadap kebiasaan membaca, akses terhadap bahan bacaan, serta lingkungan yang memberi kesempatan bagi setiap orang untuk terus belajar. Dengan demikian, kegiatan membaca senyap dan pengisian survei menjadi dua bagian yang saling melengkapi dalam mendorong perhatian terhadap literasi.
Kepala MAN Sibolga, Nurul Oktaviana Mekawati, menegaskan bahwa pembiasaan membaca perlu menjadi bagian dari keseharian warga madrasah. Menurutnya, membaca merupakan salah satu jalan untuk memperluas wawasan, meningkatkan pemahaman, dan mendukung proses belajar yang lebih bermakna. Karena itu, kegiatan literasi perlu terus diperkuat melalui keterlibatan guru, murid, dan seluruh unsur madrasah. “Budaya membaca tidak dapat dibangun hanya melalui imbauan, tetapi perlu dibiasakan dan dilakukan secara konsisten. Melalui kegiatan membaca senyap ini, kami ingin membangun kesadaran bahwa membaca merupakan kebutuhan bagi guru maupun murid. Semakin terbiasa seseorang membaca, semakin banyak kesempatan yang dimilikinya untuk memperluas wawasan, memahami berbagai persoalan, dan mengembangkan cara berpikir,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan seluruh warga madrasah dalam mendukung penguatan literasi. Menurutnya, lingkungan pendidikan perlu memberikan ruang yang mendorong peserta didik untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan, bukan sekadar kewajiban dalam menyelesaikan tugas pembelajaran. “Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada satu kesempatan. Membaca perlu menjadi kebiasaan yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, baik di madrasah maupun di rumah. Kami juga mengajak seluruh murid untuk memanfaatkan bahan bacaan yang tersedia, memperluas pengetahuan, dan membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat,” tambahnya.
Penguatan literasi tersebut sejalan dengan upaya Kementerian Agama dalam meningkatkan mutu pendidikan madrasah melalui pembelajaran yang bermakna dan pengembangan kompetensi peserta didik. Kemampuan membaca menjadi dasar penting untuk mendukung pembelajaran mendalam karena murid perlu memahami informasi, menghubungkan konsep, menganalisis persoalan, serta mengembangkan gagasan berdasarkan pengetahuan yang diperoleh. Literasi juga berperan dalam membangun kecakapan menghadapi arus informasi digital. Di tengah banyaknya informasi yang beredar, murid perlu memiliki kemampuan membaca secara cermat, membedakan fakta dan pendapat, serta memeriksa keandalan sumber sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi. Kebiasaan membaca yang baik dapat menjadi salah satu fondasi untuk membentuk peserta didik yang kritis, bijak, dan bertanggung jawab dalam menggunakan informasi.
Melalui kegiatan membaca senyap dan partisipasi dalam Survei Tingkat Kegemaran Membaca Tahun 2026, MAN Sibolga terus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang menempatkan literasi sebagai bagian penting dari proses belajar. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak hanya berlangsung melalui penyampaian materi di kelas, tetapi juga melalui pembiasaan positif yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh warga madrasah. MAN Sibolga berharap semangat membaca terus tumbuh dan menjadi budaya bersama. Dengan keterlibatan guru sebagai teladan dan murid sebagai generasi pembelajar, madrasah berupaya menumbuhkan lingkungan yang menghargai pengetahuan, mendorong rasa ingin tahu, dan membuka kesempatan bagi setiap peserta didik untuk terus berkembang. Literasi yang kuat diharapkan menjadi salah satu bekal bagi murid MAN Sibolga untuk meraih prestasi, menghadapi tantangan zaman, dan berkontribusi positif bagi masyarakat. (IMS)










Suara Tamu
Tinggalkan Komentar